Minggu, 26 September 2010

Prokontra, Pendapat, untung rugi nya DENOMINASI!

Untung Ruginya…

Lalu apa untungnya denominasi? Saya sih melihatnya lebih ke penyederhanaan yang memudahkan. Seorang akunting tidak perlu menulis angka nol berderet-deret. Angka-angka transaksi saat ini semakin besar seiring kenaikan harga-harga. Hampir semua barang (apalagi kalo beli banyak) pasti ngomong jutaan. Alangkah sederhananya bila cukup menulis beberapa ribu rupiah saja..

Saat membawa duit beberapa juta saja, kantong langsung gembul. Kalau puluhan juta, mesti pakai tas atau kantong plastik. Mungkin lebih enak kalau mau ke bank menabung Rp5 juta, tetapi setelah denominasi, cukup bawa uang 5 ribu rupiah… Ke mall mau beli hape harga 3 jutaan, cukup bawa uang 3 ribuan rupiah… Lebih nyaman kan?

Dalam skala lebih besar, anggaran negara kita sudah menembus angka ribuan triliyun rupiah... Dalam beberapa tahun mendatang angka-angka tersebut akan terus membesar sampai kalkulator tidak sanggup memuatnya. Angka-angka itu dirinci lagi dalam ratusan pos pada ribuan satuan kerja (institusi) negara, dengan komplikasi perhitungan dan pelaporannya…betapa merepotkannya menulis nol yang berderet-deret… Lagipula, apakah angka trilyun betul-betul sudah bermakna trilyun, jangan-jangan hanya menyesatkan dan dibesar-besarkan.

Sisi psikologis juga berbicara dalam hal ini. Bagi negara-negara yang pernah mengalami krisis ekonomi berat sehingga inflasi membubung (nilai uang jatuh), denominasi yang dilakukan dengan baik dapat membawa arti pembaharuan. Mata uang dengan digit yang lebih sedikit menandai akhir trauma ekonomi dan memulai langkah yang baru, lebih sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Contoh yang paling sering diangkat belakangan ini adalah keberhasilan Turki dalam proses denominasi. Waktu itu 1 US Dollar kurang lebih sama dengan 1 juta Lira (saat ini Indonesia Rp9000-an).

Lalu ada yang komentar tentang kesulitan yang mungkin dihadapi masyarakat kecil, dimana nilai uang Rp50 sekalipun masih sangat berarti. Sepanjang isu denominasi dan bukan sanering, hal tersebut tidak perlu dikuatirkan. Bila denominasi sungguh terjadi, pasti akan muncul nilai ‘sen rupiah’ untuk mendukung masyarakat yang bertransaksi barang pada nilai yang lebih kecil.

Kekuatiran umum yang muncul dari ide ini adalah ketidaksiapan masyarakat dalam transisi mata uang. Tetapi pihak Bank Indonesia mengatakan bahwa transisi ini kemungkinan berlangsung selama 10 tahun dengan tahapan-tahapan yang direncanakan dengan baik.

Masalah lainnya adalah biaya pengadaan mata uang baru diikuti penarikan mata. Tentu ini memerlukan biaya besar. Lalu perubahan label harga-harga barang di seluruh toko, mall, ataupun supermarket. Tentu ini menimbulkan cost tersendiri. Akan tetapi bila suatu kebijakan dilakukan dengan motivasi yang positip, disampaikan dengan baik, pastilah akan berjalan dengan baik pula. Lagipula, tidak ada kebijakan yang selalu dapat memuaskan semua pihak bukan?


Digit Uang Berderet = Negara Tertinggal?

Ehemm…mungkin ini gak terlalu relevan…tetapi bila kita mencermati mata uang negara-negara di dunia, penggunaan digit nominal yang berderet-deret kebanyakan berlaku di negara-negara berkembang dan negara miskin. Saat kita membeli barang dengan harga Rp9.000, barang yang sama cukup dibeli dengan 1 Dollar Amerika atau 3 Ringgit Malaysia atau 1,2 dollar Australia, dst.

Negara Zimbabwe di Afrika beberapa waktu lalu terpuruk ekonomi sampai hancur cur cur… Inflasi mencapai 2 juta persen. Bayangkan ditahun 2008 lalu, sebungkus roti dihargai ZWD80 milyar, sebotol coca cola ZWD160 milyar. Karyawan dan pegawai mendadak jadi milyarder palsu. Gaji milliaran, tetapi tidak mampu membeli beras dan kebutuhan hidup. Gambar ini adalah uang dollar Zimbabwe dengan nilai hanya 5 Dollar Amerika!

Negara-negara maju kebanyakan lebih efisien menggunakan nol pada mata uangnya. Saat ini USD1.000 = Rp9.000.000. Jadi bila nol masih berderet-deret, paling tidak ini indikator untuk menentukan negara kita kira-kira berada pada kategori mana.

Bila memperhatikan jumlah digit rupiah dan situasi perekonomian yang relatif stabil, sepertinya ide denominasi patut dipertimbangkan. Akan tetapi jangan sampai hanya karena mau mengejar kategori negara maju, lalu kita seenaknya memotong angka nol tanpa perhitungan yang presisi..

Apapun kebijakannya, semoga berjalan dengan baik demi kemakmuran bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar