Selasa, 28 September 2010
Komentar Mereka Tentang "DENOMINASI"
*A : "pro sih"
*B : " pro "
*C : " pro pro aja sih selama itu baik "
2# Menurut kamu DENOMINASI itu bagus atau membingungkan?
*A : "Bagus sih, soalnya nominal rupiah kita berlebihan. kaya waktu aku ke money changer kesannya rupiah kita ga ada artinya"
*B : "Tergantung ya, kan semua pasti ada proses. nah kalo dilihat dari segmentasi pasar sih menguntungkan banget, disamping naikin nilai uang rupiah di pasar asing. tapi ya semuanya emang bener bener harus dipersiapkan lebih terperinci dan bisa tersosialisai dengan baik"
*C : "Sebenernya sih sama aja,tetep ga bikin nilai jual beli di indonesia turun. tapi mingkin efisien terus jadi setara sama mata uang lain di dunia. cuma pasti merealisasikan nya tuh makan banyak biaya. manfaatnya biar ga ada lagi mata uang yang nominalnya lebih dari 100.000 gara gara inflasi, kan semuanya juga udah susah.
3# oke, terima kasih ya atas waktu nya..
*All : " iya sama sama "
Minggu, 26 September 2010
Denominasi Rupiah
Isu denominasi rupiah yang beredar belakangan ini cukup menarik perhatian masyarakat. Keresahan cukup wajar karena masyarakat teringat pemotongan nilai uang dizaman Bung Karno (1959) dimana inflasi mencapai 635,5%!. Lebih banyak tanggapan kuatir akan dampak ‘pemotongan’ nilai rupiah, terutama bagi kalangan masyarakat kecil. Nah, saat berbicara denominasi lalu dikaitkan dengan pemotongan nilai rupiah, mungkin telah sedikit salah jalan dalam dialog alias gak nyambung. Denominasi bukanlah sanering.
Beda Denominasi dan Sanering
Denominasi lebih berupa penyederhanaan penyebutan satuan atau nilai mata uang dengan mengurangi jumlah digit. Jadi jumlah digit dikurangi tetapi NILAI atau DAYA BELI uang tidak berubah. Sedikit membingungkan? Gak juga. Ambil contoh misalnya -sesuai isu yang beredar saat ini- nilai Rp1.000 akan disederhanakan menjadi Rp1. Bagaimana dengan nilai barang? Tidak ada masalah. Ambil contoh, sekaleng coca cola saat ini harganya Rp5.000. Setelah denominasi, harganya disesuaikan menjadi Rp5. Jadi nilai riil atau daya beli uang pada dasarnya tidak berubah.
Lain halnya dengan sanering. Sanering merupakan pemotongan NILAI atau DAYA BELI uang. Sanering biasa dilakukan oleh negara dengan perekonomian kacau, tidak stabil yang ditandai dengan inflasi yang tinggi. Inflasi yang tinggi menjadikan uang tidak bernilai, karenanya perlu dipotong nilainya. Bila sanering diberlakukan dengan ketentuan Rp1.000 nilainya dipotong menjadi hanya Rp1, maka sekaleng coca cola bukannya menjadi Rp5, tetapi harganya tetap Rp5.000. Bisa dibayangkan betapa ‘hebohnya’ pengaruh sanering bila diberlakukan.
Prokontra, Pendapat, untung rugi nya DENOMINASI!
Untung Ruginya…
Lalu apa untungnya denominasi? Saya sih melihatnya lebih ke penyederhanaan yang memudahkan. Seorang akunting tidak perlu menulis angka nol berderet-deret. Angka-angka transaksi saat ini semakin besar seiring kenaikan harga-harga. Hampir semua barang (apalagi kalo beli banyak) pasti ngomong jutaan. Alangkah sederhananya bila cukup menulis beberapa ribu rupiah saja..
Saat membawa duit beberapa juta saja, kantong langsung gembul. Kalau puluhan juta, mesti pakai tas atau kantong plastik. Mungkin lebih enak kalau mau ke bank menabung Rp5 juta, tetapi setelah denominasi, cukup bawa uang 5 ribu rupiah… Ke mall mau beli hape harga 3 jutaan, cukup bawa uang 3 ribuan rupiah… Lebih nyaman kan?
Dalam skala lebih besar, anggaran negara kita sudah menembus angka ribuan triliyun rupiah... Dalam beberapa tahun mendatang angka-angka tersebut akan terus membesar sampai kalkulator tidak sanggup memuatnya. Angka-angka itu dirinci lagi dalam ratusan pos pada ribuan satuan kerja (institusi) negara, dengan komplikasi perhitungan dan pelaporannya…betapa merepotkannya menulis nol yang berderet-deret… Lagipula, apakah angka trilyun betul-betul sudah bermakna trilyun, jangan-jangan hanya menyesatkan dan dibesar-besarkan.
Sisi psikologis juga berbicara dalam hal ini. Bagi negara-negara yang pernah mengalami krisis ekonomi berat sehingga inflasi membubung (nilai uang jatuh), denominasi yang dilakukan dengan baik dapat membawa arti pembaharuan. Mata uang dengan digit yang lebih sedikit menandai akhir trauma ekonomi dan memulai langkah yang baru, lebih sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Contoh yang paling sering diangkat belakangan ini adalah keberhasilan Turki dalam proses denominasi. Waktu itu 1 US Dollar kurang lebih sama dengan 1 juta Lira (saat ini Indonesia Rp9000-an).
Lalu ada yang komentar tentang kesulitan yang mungkin dihadapi masyarakat kecil, dimana nilai uang Rp50 sekalipun masih sangat berarti. Sepanjang isu denominasi dan bukan sanering, hal tersebut tidak perlu dikuatirkan. Bila denominasi sungguh terjadi, pasti akan muncul nilai ‘sen rupiah’ untuk mendukung masyarakat yang bertransaksi barang pada nilai yang lebih kecil.
Kekuatiran umum yang muncul dari ide ini adalah ketidaksiapan masyarakat dalam transisi mata uang. Tetapi pihak Bank Indonesia mengatakan bahwa transisi ini kemungkinan berlangsung selama 10 tahun dengan tahapan-tahapan yang direncanakan dengan baik.
Masalah lainnya adalah biaya pengadaan mata uang baru diikuti penarikan mata. Tentu ini memerlukan biaya besar. Lalu perubahan label harga-harga barang di seluruh toko, mall, ataupun supermarket. Tentu ini menimbulkan cost tersendiri. Akan tetapi bila suatu kebijakan dilakukan dengan motivasi yang positip, disampaikan dengan baik, pastilah akan berjalan dengan baik pula. Lagipula, tidak ada kebijakan yang selalu dapat memuaskan semua pihak bukan?
Digit Uang Berderet = Negara Tertinggal?
Ehemm…mungkin ini gak terlalu relevan…tetapi bila kita mencermati mata uang negara-negara di dunia, penggunaan digit nominal yang berderet-deret kebanyakan berlaku di negara-negara berkembang dan negara miskin. Saat kita membeli barang dengan harga Rp9.000, barang yang sama cukup dibeli dengan 1 Dollar Amerika atau 3 Ringgit Malaysia atau 1,2 dollar Australia, dst.
Negara Zimbabwe di Afrika beberapa waktu lalu terpuruk ekonomi sampai hancur cur cur… Inflasi mencapai 2 juta persen. Bayangkan ditahun 2008 lalu, sebungkus roti dihargai ZWD80 milyar, sebotol
Negara-negara maju kebanyakan lebih efisien menggunakan nol pada mata uangnya. Saat ini USD1.000 = Rp9.000.000. Jadi bila nol masih berderet-deret, paling tidak ini indikator untuk menentukan negara kita kira-kira berada pada kategori mana.
Bila memperhatikan jumlah digit rupiah dan situasi perekonomian yang relatif stabil, sepertinya ide denominasi patut dipertimbangkan. Akan tetapi jangan sampai hanya karena mau mengejar kategori negara maju, lalu kita seenaknya memotong angka nol tanpa perhitungan yang presisi..
Apapun kebijakannya, semoga berjalan dengan baik demi kemakmuran bangsa.
Sabtu, 25 September 2010
DENOMINASI, BERKAH atau BENCANA?
Tanpa hiruk pikuk, Pemerintah RI mulai 18 Mei 2010, mengumpulkan dana untuk memodali proyek bernama Denominasi Rupiah, yaitu memangkas tiga nol angka dalam nominal rupiah, atau yang dulu dikenal sebagai Sanering Rupiah (Sumber: BI). Peristiwa ini mengingatkan kita pada sanering 31 Desember 1965, saat Orde Lama - Soekarno memangkas nilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Caranya: uang lama 'rupiah glabak, karena dicetak dalam lembaran besar' yang beredar, umumnya bernilai Rp 50, Rp 100, Rp 500, Rp 1000, Rp 5000 dan Rp 10.000 ditarik oleh Bank Indonesia, kemudian ditukar menjadi 5 sen untuk Rp 50, 10 sen untuk Rp 100, dan 50 sen untuk Rp 500, lalu Rp 1 untuk Rp 1000, Rp 5 untuk Rp 5000, serta Rp 10 untuk baru Rp 10.000 lama.
Denominasi Rupiah, atau Sanering kali ini didanai dari Surat Utang Negara (SUN). Penjualan SUN Denominasi Rupiah ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah dana terkumpul dirasa cukup oleh pemerintah, maka sanering segera dimulai. Memang wacana sanering rupiah sudah lama muncul sejak Reformasi 1999, dan kini mendekati kenyataan. Rencananya Rp 1000 saat ini akan diganti dengan Rp 1 baru, tentu dengan gambar uang kertas yang nyaris serupa. Misalnya Rp 100.000 yang bergambar Soekarno-Hatta akan ditarik, dan ditukar dengan Rp 100 baru yang juga bergambar Soekarno-Hatta, seperti dulu ketika BI menarik uang plastik Rp 100.000 berbahan polymer gambarnya hanya dimodivikasi. Lembaran bergambar I Gusti Ngurah Rai yang bernominal Rp 50.000, kelak ditukar menjadi Rp 50. Begitu pula dengan rupiah pecahan lainnya, tetapi kali ini uang kertas Rp 1000 kemungkinan besar diganti dengan koin, jadi uang kertas terkecil nantinya Rp 2 baru bergambar Pangeran Antasari. Untuk uang logam, akan di mulai dari nominal 50 sen untuk mengganti Rp 500, dan Rp 1 untuk mengganti Rp 1000.
Begitu pula dengan nilai nominal rupiah dalam rekening bank dan slip gaji kita. Akan otomatis dipangkas 3 digit dalam penulisannya. Misalnya: rekening tabungan Rp 1.525.720,00 akan ditulis Rp 1.525,72 dan ini tentu lebih efisien, sebab denominasi rupiah akan mengangkat citra mata uang republik ini di mata dunia internasonal, karena penulisan rupiah setara dengan penulisan mata uang lain. Uang baru nantinya akan beredar bersama dengan rupiah sekarang, dan pedagang nantinya diwajibkan untuk menulis harga barang dengan dua jenis rupiah secara berdampingan. Misalnya: 1 Kg beras Rp 6.000, menjadi 1 Kg beras Rp 6000 / Rp 6 baru. Hal ini tidaklah aneh, tanpa disadari kebiasaan masyarakat saat ini memangkas nilai uang dalam istilah sehari-hari, mereka menyebut 50 untuk nominal Rp 50.000, juga 120 untuk Rp 120.000.
Denominasi ini katanya untuk mencegah diterbitkannya rupiah dalam nominal yang lebih besar lagi akibat inflasi. Beberapa waktu yang lalu, memang dikuatirkan oleh belbagai pihak bahwa nominal dalam lembaran rupiah akan terus membengkak, bahkan hingga 7 digit, yaitu Rp 1.000.000. Kekuatiran ini diawali oleh rencana terbitnya Rp 200.000 dan Rp 500.000 pasca beredarnya uang kertas Rp 2000 pada tahun 2009 kemarin. Namun sayang, proyek denominasi rupiah kali ini pun tidak dibekali oleh pondasi yang kuat. Sanering justru dibiayai dari Surat Utang Negara (SUN), ini tentunya akan membebani rupiah kelak.
Seharusnya pemerintah bukan mengumpulkan dana dari utang, tetapi menabung dalam bentuk emas dari sebagian penghasilannya. Kalau tak sanggup mengumpulkan emas batangan karena tak ada uang tunai, alangkah baiknya pemerintah segera mengajak masyarakat untuk menabung dalam dinar. Setelah pondasi keuangan terbentuk di masyarakat, misalnya telah beredar 25 juta koin dinar emas, barulah pemerintah mengkaitkan rupiah dengan dinar, untuk memperkuat rupiah baru.
Hal ini tidaklah berlebihan, bila setiap keluarga WNI dianjurkan untuk menabung 1/2 atau 1 dinar emas. Lepas dari itu semua, yang terpenting bagi kita, rakyat Indonesia, denominasi rupiah tidak menjadi awal dari bencana permainan riba ex nihilo atau zero sum game dalam rupiah. Sebab nantinya rakyat yang kalah gesit mengimbagi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya.�
Tetapi, setiap warga negara memiliki kebebasan dan kemandirian dari kebijakan apa pun dari pihak lain. Maka, tanpa ada anjuran dari pihak luar pun, sebaiknya masyarakat sedari saat ini mulai mengalihkan hartanya. Sebab tidak ada yang bisa menjamin, apalagi menanggung kerugian masyarakat, bila denominasi itu nantinya terjadi.
Uang lebih yang saat ini Anda simpan mulai alihkan menjadi dinar emas dan dirham perak. Akses masyarakat kita untuk memperoleh koin emas dan perak ini sudah semakin mudah, dengan adanya 85 wakala di berbagai kota di Indonesia. Karena terbuat dari logam mulia, dinar emas dan dirham perak, bukan saja tidak dapat didenominasi atau disanering, tetapi daya belinya tidak pernah digerus inflasi. Dalam kacamata uang kertas kurs dinar emas dan dirham perak selalu meningkat, rata-rata 20-25% per tahun.[SF]
ILLUMINATI repost from "agith"

Sejarah lluminati



Oh iya, untuk informasi aja. nomor pesawat Flight 11 yang menabrak WTC adalah :

Perkembngan Illuminati
Sejak bergabung dengan kelompok Freemasonry, illuminati menjadi semakin kuat karena dibantu oleh jaringan kelompok Freemasonry yang sepertinya tidak menyadari telah dijadikan alat transportasi aman oleh illuminati. Illuminati terus diburu oleh gereja. Mereka dicap sebagai penganut paham Luciferian Conspiracy, dikarenakan mereka, sama seperti halnya Freemasonry, memiliki ritual pemujaan kepada "Sang Arsitek Agung" / "The Great Architect", yang dilambangkan oleh mereka berupa "The Wholeseeing-Eye" / "Mata tuhan" (diambil dari legenda mesir); yang merupakan simbol dari Lucifer (sebutan setan dalam tradisi kristiani).Sejak 1782 gerakan Illuminati menyebar dari Denmark sampai ke Portugal, bahkan lebih jauh lagi. Orang-orang Inggris yang terilluminasi bergabung dengan orang-orang Amerika membangun Loji Columbia di kota New York pada tahun yang sama. Seorang bangsawan muda Rusia,Alexander Radischev, bergabung di Leipzieg, dan menyebarkan doktrinnya ke kampung halamannya di St. Petersburg. Di Lisabon seorang penyair bernama Claudio Manuel da Costa menjadi anggota, dan ketika hijrah ke Brazil ia mendirikan sebuah cabang dengan dibantu dua orang dokter dari Ouro Preto, Domingos Vidal Barbarosa dan Jose Alvares Maciel. Pada tahun 1788 trio ini melancarkan pemberontakan Illuminati yang pertama, Inconfidencia Mineira, tetapi pemberontakan itu ditumpas ketika baru saja berputik oleh raja muda Marquis de Barbacena. Hingga saat ini, mereka berjuang secara diam-diam melawan dan berusaha meruntuhkan gereja katolik roma, yang dianggap melambangkan kekuasaan dari Yesus Kristus, musuh Lucifer.
Rabu, 19 Mei 2010
The Only Exception
When I was younger I saw
my daddy cry and curse at the wind
Broke his own heart and I watched
as he tried to reassemble it
And my momma swore that she would never let herself forget
And that was the day that I promised
I'd never sing of love if it does not exist
But darling you are the only exception
Maybe I know somewhere deep in my soul that love never lasts
And we've got to find other ways to make it alone
Keep a straight face
I've always lived like this
Keeping a comfortable distance
And up until now I had sworn to myself that I'm content with loneliness
Because none of it was ever worth the risk
Well you are the only exception
I've got a tight grip on reality but I can't let go of what's in front of me here
I know you're leaving in the morning when you wake up
Leave me with some kind of proof it's not a dream
You are the only exception
Selalu Begitu
hampir hampir tiap malem itu, gw selalu tidur jam 1 jam 2, 3 bahkan suka sampe adzan subuh baru tidur. semenjak gw ga sekolah dan libur yg cukup membosankan ini, gw selalu tidur jam segitu.
tergantung juga sih, walaupun ga minum kopi tetep suka tidur pagi. dan walaupun minum kopi,kalo udah ngantuk ya tidur aja. kayanya emang udah kebiasaan jadi begini.
i'm being nocturnal. . . .
kalo udah malem gini gw cuma ditemenin internet, beruntung beruntung ada temen yg masih ON.
gw nulis post ini, hari ini, malem ini karena gw lagi ga mood. karena ada sesuatu, dan gw itu moody-an. kalo udah ada yg bikin ga enak sedikit pasti udah bingung gimana biar biasa lagi.
i need moodbooster. who's that? i don't know. but i mean that's a girl. who are they? idk.
bismika Allahuma Ahya wabismika amuut. selamat tidur
Rabu, 12 Mei 2010
Second time i get this ONE! Alhamdulillah
Ujian Saringan Masuk Gelombang II
Selamat!
Saudara/i atas nama IKHSAN MAULANA AKBAR, LULUS dalam Seleksi Mahasiswa Baru Bersama (SMBB) Telkom 2010 melalui seleksi Ujian Saringan Masuk (USM) Gelombang II.
Saudara/i telah dinyatakan
DITERIMA di Program Studi S1-Ilmu Komunikasi IM Telkom
sebagai calon mahasiswa baru Tahun Akademik 2010/2011.
Demikian pengumuman ini kami sampaikan dan sekali lagi selamat atas diterimanya Saudara/i sebagai calon mahasiswa baru IM Telkom melalui seleksi Ujian Saringan Masuk Gelombang II.
Senin, 05 April 2010
LA LIGHTS indiefest 2010

Syarat dan Tata Cara Pendaftaran
- Jenis lagu yang bisa ikut dalam proses seleksi adalah bebas tanpa batasan aliran dan genre musik.
- Kamu diwajibkan mengirimkan 1 lagu demo dalam lirik bahasa Indonesia, Jika kamu mengunakan lirik bahasa Inggris maka diwajibkan mengirimkan 1 lagu tambahan berupa terjemahannya atau lagu lain yang mengunakan lirik bahasa Indonesia.
- Semua lagu bebas berkreasi sesuai genre dan ide musikal dari band kamu.
- Usia anggota group band kamu minimal 18 tahun pada saat pendaftaran dan maksimal 30 tahun.
- Mengisi secara lengkap formulir pendaftaran serta melampirkan persyaratannya dan membaca / mengetahui syarat dan ketentuan ”Terms & Conditions” L.A. LIGHTS INDIEFEST 2010.
- Membayar biaya pendaftaran Rp. 30.000,- (tigapuluh ribu rupiah).
Jumat, 19 Maret 2010
Oz Radio Jakarta 90,8Fm




